JAKARTA – HPN.or.id
Sekitar 120 Pengusaha Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) mengadakan Halal Bihalal Nasional Rabu, 27 Mei 2020. Maaf, jangan dibayangkan akan terjadi kerumunan massa dan melanggar aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang ditetapkan pemerintah karena Halal Bihalal yang dimulai pukul 16.00 WIB itu dilakukan secara online pada platform rapat online yang sedang populer saat ini.

Sebagai tuan rumah (host) dan pendukung tuan rumah (cohost), dua ketua DPP HPN turun tangan sendiri yaitu Dripa Sjabana dan Yasinta Wirdaningrum, beserta beberapa cohost lainnya untuk mendukung lancarnya acara yang langsung di moderasi oleh Sekjen HPN Lukmanul Hakim.

Ketua Umum PBNU K.H. Said Aqil Siraj selain sebagai pendiri HPN juga merupakan Dewan Penasehat DPP HPN. Hadir dua pendiri HPN lainnya yaitu KH As’ad Said Ali yang juga selaku Ketua Dewan Pembina PP HPN dan KH Agus Ali Mashuri Tulangan Sidoarjo Jawa Timur. Juga hadir KH Abun Bunyamin, Ketua Dewan Pakar HPN Prof Rohmin Dahuri, dan tamu undangan seperti Ketua Umum Ikatan Saudagar Muslim se-Indonesia (ISMI) Ilham Habibie, Taufan Bakrie, Gus Rohman Direktur Executive SIMAC (Santri Millenial Center), dan Teuku Rafly Pasya. Rapat juga diikuti oleh PW DKI, PW Jabar, PW Jatim, PW Jateng, PW Banten, PW Kaltim, PW Sulawesi.

Ketua Umum HPN Ir Abdul Kholik dalam pembukaan menyampaikan bahwa saat ini HPN sudah mempunyai cabang di Eropa tepatnya di Inggris Raya, juga sudah membuka departmen khusus pengusaha muda (Pemuda).
Menurut Kholik, Pandem Covid-19 ini memang banyak sisi negatif, namun sebagai pengusaha harus selalu melihat yang positif, misalnya silatrurahmi bisa melalui online, puasa lebih kusyuk, salat malam lebih kusyuk.

Kholik menyarankan agar pengusaha belajar bermutasi, belajar bertahan, belajar keluar dari zona nyaman. “Selama ini kita berbisnis dengan konsep take it or granted, namun dengan adanya pandemik hal itu tidak bisa dilakukan lagi, kita harus bertahan dan bermutasi.
Tahun 98 belajar memanfaatkan situasi usai chaos, sekarang belajar lagi dan bangkit lagi usai pandemik,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Prof Rohim. Menurutnya, HPN adalah institusi yang sangat strategis, bukan hanya bagi NU namun juga bagi negara. karena saat ini jumlah pengusaha besar nasional hanya sekitar 3%. Sisanya adalah pengusaha kecil yang disebut dengan UMKM.
“Bila kita mengacu kepada Fastabiqul Khoirot, seperti NU sekarang sudah ada RS, ada pendidikan maka harus dikelola dengan sangat bagus, maka HPN juga harus mengelola UMKM atau pengusaha kecil ini menjadi kekuatan yang besar,” jelasnya.

Oleh karena itu, Prof Rohim menyarankan agar pengusaha di HPN harus saling menjalin networking agar semakin maju, untuk itu disarankan agar konsep koperasi harus dikelola dengan tata kelola yang baik. Maka yang harus dilakukan adalah sistem koperasi seperti jaman dulu, harus diberdayakan kembali. Buktinya jaman orde baru, Bank yang ngurusi petani dan nelayan tidak ada, karena sebenarnya harus ada bank macam ini.
“Oleh karena itu Presiden mengajak agar saling menguatkan pengusaha kecil dalam situasi pandemik ini,” katanya.

Terkait dengan Covid-19, Prof Rohim menyarankan tidak usah takut, dan tidak boleh sedih dan tetap tawakal dan selalu tetap survive, Insyalllah Agustus nanti badai sudah berlalu. Tetap optimis dalam situasi apapun, setiap ada kejadian selalu ada kesempatan yang bisa dilakukan.

“Berapa ratus ribu pengusaha UKM yang terpuruk, saya mengusulkan kepada pemerintah bagaimana kredit macet di bank oleh pengusaha kecil ini, berapa persen yang bisa di stop. Atau dinormalkan kembali atau dibenahi. “Kita tidak perlu meminta minta kepda pemerintah, namun kita tetap usaha dan beriktiar kepada Allah agar pandemi ini segera berlalu,” tegasnya.

Halal Bihalal ditutup dengan tausiah oleh KH Agus Ali Mashuri Tulangan Sidarjo. Dikatakan, pengusaha harus selalu optimis dan berpikir positif.
Menyitir surat Al Insyirah ayat 5 yang berbunyi Fa Innama’al Usri Yusro artinya Sesungguhnya bersamaan dengan kesusahan dan kesempitan itu terdapat kemudahan dan kelapangan.
Beliau mencontohkan Thomnas Alfa Edison mengalami 9000 kegagalan saat menciptakan lampu sebelum akhirnya berhasil.
“Pengusaha harus bermental petarung karena dunia ini milik orang pemberani, berani artinya ada kalkulasi dan hitungan. Rejeki Allah memang ada dimana mana, namun 90% rejeki Allah ada di Perdagangan,” ujarnya. (Admin)