SURABAYA – HPN.or.id
Ichsan Maulana Anggota HPN Jawa Timur mendapat kehormatan menjadi pembicara “6th Biomass & BioEnergy Asia “Improving Global Competitiveness & Bottom Line: Best Practice for Design, Building/Retrofitting and Operation of a World Class Wood Pellet Mill” di Bangkok Thailand pada tanggal 19 Februari 2020.

Dihubungi Senin (30/12/2019) pagi, Ichsan yang juga seorang pengusaha wood pellet bio massa mengungkapkan bahwa dirinya diundang di acara yang cukup bergengsi tersebut sebagai seorang pengusaha Wood Pellet yang sudah digelutinya sejak 5 tahun terakhir.
“Memang sejak 5 tahun terakhir saya merintis usaha Wood pellet dari Limbah artinya saya bicara mengenai energi terbarukan yang saat ini sedang ramai dilakukan di seluruh dunia,” ujar Ichsan.

Saat ini kata dia, Biomassa dari Wood Pellet tidak banyak yang tertarik mungkin karena limbah, padahal limbah kayu di Indonesia masih cukup besar dan banyak terbuang percuma. Bila diolah dengan benar dan dibentuk menjadi wood pellet, maka limbah kayu tersebut mempunyai nilai jual yang tinggi.
“Kayu gergajian, serbuk kayu, limbah hutan berubah ranting dll yang berbentuk kayu akan saya ubah menjadi wood pellet dan wood pellet inilah yang menggantikan batu bara sebagai bahan bakar,” katanya.
“Masih ingat dengan pabrik tahu di Tropodo Surabaya Jatim yang kemarin menggunakan limbah plastik sebagai bahan bakar, setelah ramai akhirnya saya dukung dengan memberikan wood pellet dan kompor khusus wood pellet sehingga kini produksi mereka aman dan tidak tercemar dengan limbah, dan hasil pembakaran sangat bersih,” lanjutnya.

Ichsan mengakui bahwa produksi wood pellet yang dihasilkannya masih kecil sekitar 2500 Ton per bulan, oleh karena itu dirinya mengaku kaget saat diminta bicara mengenai Biomassa karena masih pemain baru.

Menurutnya potensi Biomassa di Indonesia masih terbuka lebar, bahkan potensi Biomassa di Indonesia adalah terbesar di Asia. Mengapa demikian? karena faktor hutan Indonesia yang masih terbesar di dunia. Dengan kayu yang hingga kini masih banyak dimanfaatkan maka limbah kayu masih akan ada.
“Dan limbah itulah yang saya gunakan. Jadi saya mau menjadi pembicara di Thailand itu karena ada misi lain untuk mencari investor untuk kerjasama sehingga nantinya diharapkan banyak investor yang akan masuk ke Indonesia,” jelasnya. (Admin)