SURABAYA – HPN.or.id
Potensi usaha energi terbarukan bidang Biomassa yakni Wood Pellet di Indonesia masih terbuka lebar dan menanti investor untuk mengembangkannya. Apalagi, usaha Wood Pellet di Indonesia merupakan terbesar di Asia.
“Potensinya karena limbah kayu di Indonesia masih banyak terbuang percuma, banyak pengusaha Indonesia yang masih kurang tertarik dengan limbah kayu padahal peluangnya guede banget,” ujar Ichsan Maulana Anggota HPN Jawa Timur yang juga Direktur PT. Energi Biomassa Investama.

Menurut Ichsan dengan akan berjalannya pembangkit baru di Indonesia maka kebutuhan Wood Pellet akan semakin meningkat, hal ini seiring dengan semakin dialihkannya energi batu bara sebagai bahan bakar pembangkit listrik di Indonesia. Rencananya Ichsan akan menjadi salah satu Keynote Speaker “6th Biomass & BioEnergy Asia “Improving Global Competitiveness & Bottom Line: Best Practice for Design, Building/Retrofitting and Operation of a World Class Wood Pellet Mill” di Bangkok Thailand pada tanggal 19 Februari 2020.

Ichsan mengakui bahwa beberapa tahun terakhir pasar wood pellet di Indonesia hingga kini (baik sektor industri atau pemanas) terlihat tidak terlalu menggembirakan. Bahkan beberapa tahun sebelumnya pemerintah memberikan stempel Daftar Negatif Investasi (DNI) artinya usaha yang tidak boleh dilakukan oleh investor asing. Wood Pellet adalah salah satu dari 100 lebih DNI yang sudah dibolehkan dikerjakan oleh investor asing. Mengapa hal ini terjadi? Pertama, karena sejumlah kebijakan untuk pemakaian wood pellet belum efektif dilaksanakan karena pembangkit-pembangkit listriknya belum selesai dibuat atau dalam tahap pembangunan, dan sejumlah pembangkit listrik juga masih dalam tahap ujicoba co-firing dengan wood pellet. “Jadi jangan sampai kita keduluan oleh investor asing,” katanya.

Kedua, harga bahan bakar kompetitor yang murah, terutama minyak bumi yang bahkan mencapai harga 30 dollar per barrel-nya yakni pada awal 2016. Kondisi ini bahkan sampai menggeser posisi wood pellet sebagai bahan bakar termurah untuk sektor pemanas. Ketika harga minyak bumi lebih dari 63 dollar per barrel-nya diprediksi pasar wood pellet akan membaik. Dan yang ketiga, akibat perubahan iklim maka musim-musim dingin di Eropa tidak dalam beberapa tahun terakhir lebih hangat atau tidak sedingin waktu-waktu sebelumnya. Tentu kondisi ini juga mengurangi konsumsi wood pellet.
“Logikanya ketika kondisi diatas bisa berubah menjadi sebaliknya tentu pasar wood pellet akan membaik,” jelasnya.

Pasar Wood Pellet Asia masih dikuasai oleh Vietnam dengan kontribusi kepada pasar Wood Pellet dunia mencapai 25% sedangkan Malaysia sekitar 7% sedangkan Indonesia masih sekitar 2%. Hal ini berbanding terbalik dengan luas hutan di Indonesia yang terbesar di dunia.
“Pemerintah mentargetkan pemakaian energi terbarukan pada tahun 2025 mencapai 23% dan pada tahun 2050 diharapkan mencapai 31%, artinya kebutuhan akan wood pellet di dalam negeri saja masih terbuka lebar, apalagi kebutuhan dunia,” jelasnya.

Ichsan mencontohkan saat ini sedang dilakukan uji coba pemakaian Wood Pellet di salah satu pembangkit listrik di Paiton dengan cara pelumatan (pulverized) dengan komposisi bahan bakar 1% dari Wood pellet dimana konsumsi pemakaian bahan bakar batubara perjam antara 220-240 Ton perjam. Artinya dibutuhkan 2,2-2,4 Ton Wood pellet per jam X 24 X 30 hari = 1.584-1.728 Ton per bulan. Ini hanya 1% saja, dengan harga Wood pellet Rp 1.400/Kg.

“Banyak pengusaha dari Jepang dan Korea yang datang ke pabrik saya dan mengajak kerjasama, tapi masih saya pikir pikir karena saya mengutamakan investor lokal terutama dari Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN),” katanya.
“Mengapa? karena bila investor dari luar negeri maka mereka akan bawa hasil wood pellet itu ke luar atau ke negara investor. Mereka ingin punya barang, maka harus mendirikan pabrik di Indonesia, Ini yang saya tidak mau,” katanya.

Tahun 2020 adalah tahun penting untuk pasar wood pellet karena tahun tersebut sebagian besar pembangkit listrik yang dibangun sudah beroperasi termasuk sejumlah kebijakan bisa efektif karena ditunjang fasilitas-fasilitas pembangkit tersebut. Demikian kata Ichsan. (Admin)